Ardhika Yoviyanto | 06 Mar 2021 | dilihat 0
Apa itu Domain ?
Anda pasti pernah menjumpai istilah domain dan bertanya-tanya, apa itu domain? Jadi, jika diibaratkan, domain atau nama domain adalah alamat rumah Anda. Contohnya, GPS membutuhkan nama jalan atau kode pos agar sistem bisa menyediakan arah untuk Anda. Nah, web browser juga membutuhkan nama domain untuk mengarahkan Anda atau pengunjung ke suatu website.
Nama domain terdiri dari dua elemen utama. Contohnya, nama domain Facebook.com memuat nama website (Facebook) dan ekstensi nama domain (.com). Pada saat perusahaan (atau orang pribadi) membeli nama domain, mereka bisa menentukan server mana yang menjadi tujuan pengarahan nama domain. Registrasi nama domain dikelola oleh organisasi yang disebut ICANN (Internet Corporation for Assigned Names and Numbers). ICANN menentukan ekstensi nama domain yang tersedia dan memiliki database yang tersentralisasi berisi informasi pengarahan nama domain.
Setiap website yang Anda buka terdiri dari dua elemen utama: nama domain dan web server. Web server adalah mesin fisik yang menyimpan file dan database website Anda lalu menampilkannya kepada para pengunjung situs saat mereka mengakses dan membuka website Anda dari komputer. Nama domain merupakan nama yang diketikkan para pengunjung untuk membuka dan mengakses website Anda. Nama ini mengarahkan web browser ke server yang menyimpan resource website. Tanpa adanya nama domain, orang-orang harus mengetikkan alamat IP server untuk mengakses situs Anda, yang tentunya akan cukup merepotkan.
Bagaimana Cara Kerja Domain?
Nama domain bekerja layaknya shortcut yang mengarahkan kita ke server yang mengonlinekan website. Perlu diketahui bahwa setiap website sebenarnya memiliki alamat IP sendiri agar bisa diakses oleh komputer, karena komputer bekerja dengan memahami angka-angka tertentu. Namun, akan sangat merepotkan bagi kita untuk mengingat setiap angka tersebut. Oleh karena itu, nama domain pun diciptakan. Contohnya, Hostinger.co.id adalah nama domain. Anggap saja alamat IP kami adalah 100.90.80.70. Alamat IP ini mengarah ke sebuah server, tapi tidak bisa digunakan untuk mengakses website kami jika pengunjung mencoba membukanya. Sebab, agar alamat IP bisa digunakan untuk mengakses website, server remote harus menggunakan port 80 dengan halaman default (index.html) yang tersimpan dalam direktori aplikasi web.
Nah, setelah memahami apa itu domain dan cara kerjanya, bisa kita simpulkan bahwa akan sangat merepotkan untuk mengakses website dengan pengaturan default server dan alamat IP. Oleh karena itu, hampir semua pemilik website memilih untuk menggunakan provider seperti Hostinger yang menawarkan nama domain gratis jika membeli paket web hosting selama setahun atau lebih. Domain juga bisa memanfaatkan redirect atau pengalihan yang membantu Anda menentukan apakah pengunjung yang membuka situs Anda akan otomatis diarahkan ke situs lain. Cara ini sangat berguna untuk campaign dan microsite, atau untuk mengarahkan pengunjung ke halaman landing khusus di situs utama Anda. Opsi pengalihan juga akan membantu menghindari kesalahan penulisan domain. Misalnya, ketika Anda salah mengetikkan URL Facebook dengan menulis www.fb.com, Anda akan tetap diarahkan ke www.facebook.com berkat opsi ini.
Berbagai Tipe Domain
Tidak semua nama domain mengikuti rumus dan aturan yang sama. Meskipun domain .com paling banyak digunakan, yaitu sekitar 46,5% dari seluruh website di dunia, masih ada domain lain yang bisa Anda pilih, seperti .org dan .net. Berikut beberapa tipe domain yang paling banyak digunakan:
TLD: Top Level Domain
Seperti namanya, tipe nama domain ini merupakan top level (tingkat atas) dalam sistem nama domain di Internet. Tersedia ribuan TLD yang bisa Anda gunakan, dan yang paling banyak digunakan antara lain adalah .com, .org, .net, dan .edu. Daftar TLD resmi dikelola oleh organisasi yang disebut Internet Assigned Numbers Authority (IANA) dan bisa Anda lihat di sini. IANA mencatat bahwa daftar TLD juga menyertakan ccTLD dan gTLD, yang akan kami bahas setelah ini.
ccTLD: County Code Top Level Domain
ccTLD hanya menggunakan dua huruf dan didasarkan pada kode negara internasional, misalnya .us untuk United States dan .jp untuk Jepang. Biasanya ccTLD digunakan oleh perusahaan yang membuat situs khusus bagi wilayah-wilayah tertentu, dan bisa menunjukkan kepada pengunjung bahwa situs yang dikunjunginya valid sesuai tujuan mereka.
gTLD: Generic Top Level Domain
Pada dasarnya, gTLD adalah TLD yang tidak menggunakan kode negara. Sebagian besar gTLD ditujukan bagi penggunaan tertentu, misalnya .edu untuk website institusi pendidikan (edukasi). Nah, Anda tidak harus memenuhi syarat tertentu untuk mendaftarkan gTLD, seperti .com yang tidak selalu ditujukan bagi website komersial. Contoh gTLD lainnya adalah .mil (militer), .gov (pemerintah), .org (lembaga nirlaba dan organisasi), dan .net yang awalnya dibuat sebagai nama domain untuk penyedia layanan internet (ISP), tapi sekarang bisa digunakan di bidang apa saja.
Tipe Nama Domain Lainnya
Nah, sampai di sini, Anda sudah tahu apa itu domain, cara kerja, dan beberapa tipe domain. Selanjutnya kami akan memperkenalkan variasi nama domain lain yang bisa Anda gunakan:
Second Level Domain
Anda mungkin pernah melihat nama domain ini. Second level domain adalah domain yang berada tepat setelah top level domain. Tenang, kami tidak akan menggunakan penjelasan yang terlalu teknis karena akan lebih mudah jika menggunakan contoh, khususnya untuk yang berkaitan dengan kode negara.
Contoh second level domain adalah .co.uk yang digunakan oleh beberapa website perusahaan di Inggris. Atau, .gov.uk yang digunakan oleh institusi pemerintah Inggris, dan .ac.uk yang digunakan oleh institusi akademik dan universitas di negara kerajaan tersebut.
Subdomain
Dengan subdomain, para webmaster tidak harus membeli nama domain tambahan jika ingin menambahkan pembagian di situsnya. Mereka cukup membuat subdomain yang bisa diarahkan ke direktori tertentu di server. Subdomain bisa menjadi opsi terbaik utuk situs campaign dan tipe konten web lainnya yang sebaiknya dipisahkan dari halaman atau situs utama.
Sebagai contoh, Facebook menggunakan developers.facebook.com untuk menyediakan informasi tertentu kepada para developer web dan developer aplikasi yang ingin memanfaatkan API Facebook. Contoh lainnya adalah support.google.com.
Domain gratis/free domain
Ada juga nama domain gratis yang bisa Anda peroleh dari berbagai website builder seperti WordPress.com, Squarespace, Weebly, dan sebagainya.
Domain gratis mirip dengan subdomain karena menggunakan nama website dalam domain pribadi Anda. Contohnya adalah businessbooks.wordpress.com atau businessbooks.squarespace.com, yang berarti domain tersebut diperoleh dari WordPress dan Squarespace.
Namun, tipe domain ini kurang cocok digunakan untuk jangka panjang bagi bisnis atau jika Anda ingin memiliki branding yang unik. Akan jauh lebih baik jika Anda memiliki nama domain sendiri.